top of page
Search

Timbuktu

Updated: Mar 28

Oleh: Eko A. Yudha F.



Apa yang anda tahu atau ingat ketika mendengar kata itu?


Once upon a time inside the Prophet Mosque, I met this man sat beside me on my right. It was my second day in Medina.

‘What’s your name, where are you from?’ I asked. But clearly he doesn’t speak or understand English.


Lalu saya coba kenalkan nama saya dengan cara menunjukkan ‘name tag’ dan dia balas menunjukkan namanya. Kemudian dia beberapa kali menyebut ‘Muhammad’ dengan nada bertanya sambil menaruh kedua tangannya diperut dan mata terpejam. Saat itu saya bingung, namun cepat tersadar bahwa mungkin dia bertanya dimana makam Nabi. Seketika saya ajak dia berdiri dan saya tunjukkan makam Nabi yang ada di sebelah kiri kami. Kebetulan kami duduk hanya 1-2 m dari sekat pemisah yang mengelilingi ‘Raudha’.


Di luar dugaan saya, kemudian dia ternyata mengajak puluhan teman-temannya untuk juga berdiri dan menunjukkan lokasi makam Nabi. Mereka berdo’a dengan khusyuk ke arahnya dan air matanya pun mulai menetes.

Saya terharu. Teringat Bapak saya. Pun membayangkan perjuangan, pergorbanan dan penjalanan mereka untuk sampai ke sini. Ketika dia kembali bersila, diulurkannya tangannya kepada saya untuk bersalaman sambil lirih mengucapkan sesuatu. Tak jelas apa itu. Mungkin berterima kasih, saya tak tahu pasti.


Dengan isyarat saya bilang saya dari Indonesia. Seketika dia menyebut kata ‘Mali’ seolah tahu atau mengerti bahwa saya berasal dari Indonesia dan saya menanyakan darimana asalnya. Lalu saya coba tunjukkan padanya dimana Mali itu dalam Google Map di telepon saya, dengan maksud untuk tanya dari bagian Mali mana dia berasal. Spontan dia menyambut dengan kata ‘Timbuktu’!

‘Ah, Timbuktu!’ Rasanya pernah saya dengar nama tempat itu. Terkesan sebagai suatu tempat nan jauh sekali.


Beberapa minggu sesampainya saya di rumah, barulah saya tahu kata Timbuktu itu pernah saya baca dalam cerita komik Donal Bebek. Karena makin penasaran, saya cari lebih banyak informasi tentangnya.


Lokasinya yang berada di tepi gurun Sahara yang bercuaca ekstrim tentu membuat kita tak menyangka bahwa Timbuktu itu ternyata pernah menjadi daerah yang kaya raya dan salah satu pusat peradaban ilmu di benua Afrika. Letaknya yang strategis berada di pertengahan antara Afrika utara dan Afrika selatan lah yang membuatnya bisa menjadi daerah kaya. Lalu apa pasal?


Pada sekitar abad ke-12 s/d 15 M, Timbuktu adalah tempat persinggahan bagi jalur perdagangan emas dan garam. Anda mungkin tak menyangka, tapi di jaman itu nilai 1 kg garam itu sama dengan 1 kg emas! Garam yang dihasilkan dari Afrika utara dapat dibarter dengan emas yang dihasilkan dari tambang-tambang di Afrika selatan. Timbuktu menjadi makmur secara ekonomi, melalui hasil pajak perdagangan, perbudakan, jasa persinggahan dan lain-lainya.


Adalah kisah Mansa Musa, penguasa Timbuktu yang kisahnya terkenal sebagai salah satu orang terkaya didunia karena kedermawanannya ketika melakukan perjalanan haji ke Mekah pada tahun 1324 M. Menurut catatan, untuk bekal berhajinya, Mansa Musa membawa 60 ribu orang pengikut dan pelayan, serta 80 ekor unta yang masing-masingnya membawa 150 kg emas!


Sepulangnya dari Mekah, Mansa Musa mengundang para ilmuwan, arsitek, teknokrat dari Andalusia (Spanyol dan Portugal), Cairo, dan Maroko untuk menetap di Timbuktu. Maka dibangunlah beberapa masjid besar dengan arsitektur unik yang beradaptasi dengan cuaca gurun, madrasah-madrasah, universitas, perpustakaan dan penerbitan yang menghasilkan jutaan kitab/buku. Bersemilah Timbuktu menjadi pusat ilmu-ilmu ke-Islaman, sejarah, astronomi, matematika fisika, dan pengobatan di benua Afrika pada abad 14-15 M. Satu saja contoh tingginya ilmu yang dipelajari di Timbuktu saat itu: sebuah naskah aljabar (matematika) dari Timbuktu abad ke-16, setelah diterjemahkan dan dipelajari di Paris, ternyata materinya setara dengan materi matematika untuk mahasiswa tingkat Master (S2) tahun ke-2.

Wah, banyak hal dan kisah menarik tentang Timbuktu yang kemudian dapat saya gali hanya karena Allah pertemukan  kami secara singkat di dalam masjid Nabi.


Bagaikan butir-butir embun dari berbagai dedaunan/dahan/ilalang yang kemudian membaur satu sama lainnya untuk bersama2 mengalir ke parit dan anak-anak sungai, lalu menuju ke sungai dan bermuara di lautan utk menjadi abadi. Demikianlah saya mendapati hikmah perjalanan haji. Satu persatu insan dari berbagai tempat di muka bumi, dengan bermacam bahasa, beragam suku dan adat/kebiasaan, dipergerakan dan dipertemukan dari berbagai arah dalam beragam moda perjalanan, menanggalkan segala atribut lahiriah kita (nama, ras, status sosial) di Miqat, untuk bermuara dan melebur semua perbedaan itu menjadi satu aliran mengitari ‘orbit-Nya’ yang kekal. Mungkin itulah caranya Allah memperlihatkan konsep ke-Esaannya.


Catatan:


Bagi yang tertarik dengan ‘intellectual legacy’ dari Timbuktu, dapat menyimak kuliah umum dari Prof Robin Walker di Youtube berikut:



 
 
 

Comments


© 2023 by Loui Design

bottom of page