top of page
Search

Batu Rosetta dan Pentingnya Literasi

Oleh: Eko A Yudha F.

Batu Rosetta
Batu Rosetta

Dulu tak pernah saya menyangka dapat melihat langsung rupa dari batu ini. Dalam pelajaran sejarah di bangku Sekolah Dasar, saya pernah bertanya-tanya batu apakah ini. Mengapa sering disebut dan seperti dianggap sebagai batu ‘sakti’? Jawaban dari guru yang saya dapat kurang memuaskan.


Belakangan, dimasa dewasa baru saya mengerti bahwa batu itu sangat penting karena dia menjadi kamus 3 bahasa yang menjadi kunci para ahli sejarah untuk membuka misteri peradaban manusia hingga 3-4000 tahun SM (sebelum masehi).


Batu ini diketemukan pada tahun 1799 oleh salah seorang serdadu pasukan Napoleon di daerah Rashid, Mesir. Diperkirakan batu prasasti ini dibuat pada tahun 199 SM ketika Mesir telah ditaklukkan oleh bangsa Yunani/Maxcedonia (Greek) dan diperintah oleh Ptolemy V, yang merupakan keturunan dari Ptolemy, salah satu panglima perang dan sahabat Alexander the Great yang masyur itu.


Sepertinya saat batu itu dibuat, kejayaan peradaban Mesir kuno sudah memudar dan tulisan hieroglyph sudah hampir punah dan jarang dipakai. Karenanya prasasti ini dituliskan dalam 3 bahasa yang saling menterjemahkan satu sama lain. Bagian atas adalah tulisan dengan huruf-huruf hieoroglyph. Bagian tengahnya bertuliskan bahasa sehari-hari bangsa Mesir saat itu (Demotic). Sementara bagian bawah adalah tulisan dalam bahasa Yunani (Greek), bangsa penguasa Mesir saat itu.


Dengan prasasti bertuliskan 3 bahasa itulah, para sejarawan modern dapat memahami arti hieroglyp yg ada di semua pyramid, lembah para raja di Luxor, Kuil Abu Simbel, dan penemuan arkeologis Mesir kuno lainnya dalam rentang abad 200 tahun SM hingga 4000 tahun SM.


Bila kita runut lebih jauh, tulisan adalah manifestasi dari bahasa/tutur kata/way to communicate. Bahasa adalah mukzizat yang seringkali kita lupakan dan ‘take it for granted’. Mengapa saya bilang bahasa adalah mukzizat, karena dengan itu manusia dapat menamai dan memaknai segala sesuatu (QS 2:31-33). Bahasa membuat kita dapat belajar dan mengajari orang lain. Lalu dengan itu pengalaman, pengamatan, ilmu pengetahuan, cara, teknik dan segala sesuatu bisa disampaikan kepada sesamanya dan generasi penerusnya membuat peradaban manusia terus berkembang pesat. Itulah mungkin sebab yang membuat malaikat sempat mempertanyakan Kehendak-Nya, sementara Iblis cemburu dan dan tak sudi bersujud pada Adam (QS 2:34).


Apabila kita tengok sejarah peradaban manusia, para ahli sering mengelompokkan jaman ke dalam 2 bagian yaitu jaman pra-sejarah ketika manusia belum mengenal tulisan dan jaman sejarah (ketika manusia mulai menulis). Dalam rentang pra-sejarah, sejak PULUHAN ribu tahun hingga berakhirnya jaman itu sekitar 4-5 ribuan tahun yang lalu, tak diketahui dengan jelas bagaimana perkembangannya. Peradaban manusia saat itu seperti berjalan lambat. Namun ketika manusia mulai menulis, dalam kurun waktu yang relatif lebih singkat (4000an tahun saja), peradaban manusia maju pesat sekali.


Dengan tulisan, Ilmu pengetahuan, budaya dan teknologi menjadi lebih mudah dan cepat berkembang karena dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan sempurna atau bahkan untuk diperbaiki menjadi lebih baik. Hal ini bisa kita lihat juga dalam realitas saat ini. Negara-negara maju berkorelasi dengan tingkat literasi, jumlah tulisan dan buku per kapitanya yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara berkembang.


Tulisan juga menghadirkan dokumentasi untuk merekam berbagai peristiwa, asal usul keluarga kita, asal usul budaya dan latar belakang kita untuk kita jadikan pelajaran dan pondasi untuk membimbing generasi penerus kita melangkah ke depan.


British Museum di kota London menyimpan berbagai koleksi sejarah yang sungguh menarik bagi peminat sejarah seperti saya. Dari segi tulisan dan bahasa saja kita jadi memahami bagaimana manusia berproses dalam mengkomunikasikan sesuatu. Dimulai dari puluhan ribu tahun lalu menggambarkan secara sederhana apa yang mereka lihat sehari-hari di dalam gua-gua, kemudian menceritakan peristiwa dan pikiran mereka dalam bentuk serial bergambar (hieroglyph) pada 4-5 ribu tahun yg lalu. Kemudian dikembangkan lagi menjadi berbentuk simbol-simbol. Hingga akhirnya berbentuk huruf-huruf beraneka bentuk (latin, arabic, dll) seperti kita pakai sekarang.


 
 
 

Comments


© 2023 by Loui Design

bottom of page