top of page
Search

Summer Roadtrip 2023

Oleh Aris Tayu (Agustus 2023) Ini perjalanan yang tidak direncanakan sebelumnya. Habis sholat, biasanya ngobrol-ngobrol. lalu Najib, imam Eyup Sultan ngomong, wah enak ya kalau mudik ke Turki lewat darat, seperti orang-orang Turki yang lagi mudik itu. Aku balas, kalau pengen banget, bisa aku anterin. Dia langsung respon, beneran nih? Ya, iyalah. Najib sempet tanya, kenapa aku mau nganterin dia? Aku bilang karena kamu imam. Hanya imam yang aku anterin, haha guyon. Sebelumnya imam mesjid Mevlana aku anterin sampai Bursa, juga imam besar Aceh Merdeka aku anterin ke Oslo. Niatku, imam ini kan orang2 baik, siapa tahu suatu saat aku butuh bantuan mereka di alam berikutnya :) Ya sudah akhirnya cari-cari tanggal yang pas, ketemu 1-24 juli. Jadinya ini sudah yang kelima jalan ke Turki, alasannya bukan karena ngefans sama orang Turki atau cewek asing lainnya, mereka hanya temen baik saja, nggak lebih. Karena sebetulnya lebih pengen explore ke tempat lain seperti China, Korea, Tanzania, atau Oman. Jadi planningnya, nganter Najib ke Konya trus aku jalan sendiri, trus jemput lagi di Konya dan angkut balik ke Stavanger :) Aku lupa ngecek kilometer awal di mobil, jadi tadinya ngak tahu berapa kilometer total perjalanan kemarın. Tapi bisa aku cek di google map, bagian your timeline. Ternyata perjalanan 24 hari itu menempuh jarak 15.698 km, bahkan hari kedua sempat nyetir sejauh 1.318 mil atau 2.121 km lebih (entah gimana ngitungnya), melalui 21 negara (Norway, Denmark, Jerman, Cheko, Slovakia, Hungaria, Serbia, Bulgaria, Turkiye, Georgia, Armenia, Yunani, Albania, Montenegro, Bosnia, Kroasia, Slovenia, Italia, Austria, Leichesten, dan Swiss). Jarak ini sudah melampaui jarak Stavanger - Tayu (lurus) yang hanya sekitar 11.6k km :) Perjalanan Stavanger- Konya sekitar tiga hari, karena cuman aku yang nyetir. Istirahat di sekitar Berlin dan di Serbia. Waktu subuh sampai Hamburg, lalu googling mosque in Hamburg, ketemunya Islamic Center of Hamburg, yang ternyata milik Milli Gorus. Sempat ngantuk dan tertidur ketika nyetir di Jerman. Hampir nabrak mobil di depan dengan kecepatan tinggi. Sedetik saja telat bangun, sayonara deh. Mobil aku rem mendadak sampai oleng dan bunyi, lalu banting stir ke kanan (emergency lane), karena di depan sudah ada truck dan di sebelah kiri ada mobil yang karı kencang darı belakang, alhamdulillah, masih Allah kasih umur :) Pernah nggak kita merasakan seseorang itu sedang mendoakan kıta? Selama perjalanan ini aku ngerasa bakalan aman-aman saja. Meski aku belum pernah ketemu istrinya Najib, tapi terasa kalau doa keselamatan untuk suaminya kenceng banget :) Antrian panjang dan butuh waktu berjam-jam di perbatasan Hungary- Serbia dan Serbia- Bulgaria, karena darı EU ke Non-EU. Di perbatasan Turkilah yang paling ketat, ditanya green card (asuransi), dan mobil digeledah, termasuk tas-tas dan kap mesin harus dibuka semua. Oiya, beberapa negara ngak punya gerbang toll, jadi harus beli stiker yang ditempel di kaca depan. Belinya di pom bensin sebelum memasuki negara tersebut atau beli vignette online, diantaranya Checko, Slovakia, Hungaria, Austria, Rumania. Juga di Turki ada aturan yang nggak biasa. Jadi hanya pemilik mobil yang boleh nyetir mobil. Maksudnya, meski pemiliknya duduk di dalam mobil, orang lain tidak boleh nyetir mobil tersebut, tapi harus pemiliknya sendiri yang boleh nyetir :) Yang paling tidak nyaman itu di Bulgaria, temen-temen Turkiye juga sempat bilang, kalau bisa sesegera mungkin meninggalkan Bulgaria. Faktanya memang benar, aku sempat mau istirahat sebentar dan parkir, aku lihat orang lokalnya langsung lihat plat nomer mobil dan pandangannya mencurigakan. Langsung aku cabut. Di jalanannya juga banyak kecelakaan, karena jalannya sempit dan kecepatan tinggi, jarak antar mobil hanya sekitar 2 meteran, lengah sedikit bakal terjadi kecelakaan. Juga banyak sekali bangkai-bangkai anjing di jalan, karena ditabrak mobil. Hawa dan aura negara ini dan orang-orangnya memang terasa kurang nyaman. Sampai Turki pas maghrib, lalu sholat jamaah di sebuah mesjid dan di luar mesjid lagi ada stand Milli Gorus ngadain bazar dan jual makanan, ngeteh sebentar. Lalu makan di sebuah resto, ketemu nasi lagi setelah tiga hari di jalan yang seringnya makan buah dan telur rebus haha, alhamdulillah. Habis itu lanjut perjalanan ke Konya, masih jauh ternyata. Sebelum masuk Istanbul harusnya masuk tol baru 0-7 ke arah Ankara biar cepat, tapi lengah dan akhirnya lewat jalan lama. Sampai Istanbul tengah malam, dan muter-muter, kesasar, bahkan sempat masuk jalan searah darı arah yang berlawanan. Dan akhirnya harus lewat jalan lama ke arah Bursa, lebih pendek tapi waktu tempuhnya lebih lama. khas GPS, memilihkan jalan terpendek, dan bukan tercepat. Dan yang paling sulit itu pas di persimpangan dengan banyak jalur, seringkali kita salah pilih jalan. Dan kalau sudah begitu harus jalan dulu beberapa kilometer untuk kembali ke track yang benar. Selama jalan kemarin, sempat jalan mundur 4x, pakai lampu emergency, karena salah masuk jalan. Itupun karena jalan masih sepi, kalau sudah rame tentu saja ngak bisa. Sebelum maşuk Konya, sempat memasuki jalan persawahan yang ngak bagus dengan kecepatan 60 km/jam, sementara jarak ke Konya masih 150 km, aku cek range diesel masih bisa 200 km. Tapi akhirnya aku putusin balik lagi untuk mencari jalan lain yang kualitasnya lebih bagus. Meski jaraknya lebih jauh, waktu tempuhnya lebih pendek. Selama jalan biasanya pakai 2 GPS, yaitu pakai yang offline (maps.me) dan pakai google map. Kalau keduanya kasih jalan yang sama, maka itulah jalan terbaik. Kalau hasilnya beda, tinggal dilihat selisih waktu tempuhnya. Kalau jarak suatu tempat di GPS makin lama makin jauh dari tujuan, itu artinya kıta nyasar :) Mungkin tadi harusnya belok, tapi kita malah lurus, misalnya begitu kasusnya. Perjalanan ke tempat baru begini berlaku pepatah: direction is more important than speed :) Sudah jalan jauh, ternyata salah jalan, kan rugi waktu. Yang benar, arahnya bener dulu baru gas poll :) Misal waktu di Bulgaria, GPS bilang belok kanan, tapi aku ragu karena mobil-mobil plat Eropa pada lurus. Akhirnya aku lurus puluhan meter trus berhenti. Najib yakin yang benar GPS, aku bilang yang bener lurus :) Ternyata yang bener lurus. Lalu dia berfatwa haha, berdasar hadish memang kalau kıta dalam perjalanan, kıta harus menunjuk seorang pemimpin yang akan memutuskan sesuatu (meskipun cuman dua orang). Sebelumnya boleh diskusi, tapi nantinya pemimpin yang ditunjuk itulah yang mengambil keputusan, dan lainnya harus setuju :) Untuk lebih memastikan jalan kita benar, bisa tanya orang di jalan. Masalahnya, kadang bertanya pun masih bisa salah pula, karena orang yang ditanya pun ngak tahu, tapi ngak bilang kalau dia ngak tahu :) Seperti ketika di Montenegro menuju Bosnia, ternyata di GPS jaraknya makin menjauh, artinya kita nyasar. Lalu tanya ibu-ibu yang lagi nganter pipis anaknya di pinggir jalan. Biar dia ngak bingung, aku cuman menunjuk arah jalan dan bilang Bosnia ? Dia bilang iya. Tapi ternyata jarak di GPS makin menjauh. Tanya lagi ibu-ibu pemilik warung yang lagi nyapu, jawabannya sama seperti jawaban ibu-ibu pertama. Lanjut jalan dan makin kelihatan kalau kıta salah jalan. Feelingku aku nyetir menuju Serbia dan bukan Bosnia karena kebanyakan mobil yang papasan di jalan platnya SRB, mobil Serbia. Lalu ketemu polisi di jalan dan aku tanya. Ternyata benar, kalau lurus bakal sampai Serbia. Dia bilang kalau mau ke Bosnia mesti balik arah, trus sekitar 5 km ada jalan kecil ke kanan, belok di situ. Baiklah, lalu balik arah. Buat memastikan, aku tanya orang lagi, dia bilang sekitar 3 km belok kanan. Wah berarti bener nih infonya. Jadi jarak polisi dan orang yang aku tanya tadi sekitar 2 km :) Sampai luar Konya, ada seorang polisi yang berdiri di tengah jalan. Aku bilang Najib, pasti dia cari mobilku. Bener saja, sekitar 5 mobil di depanku dibiarin lanjut, pas mobilku dia kasih kode supaya minggir. Najib keluar mobil, ngobrol dengan polisi, lalu sekitar 10 menitan balık ke mobil. Dia bilang sejak semalam deket perbatasan sampai siang ini, mobilku sering tertangkap kamera karena speeding. Bahkan ada mobil polisi di jalan yang juga motret. Polisi nyaranin supaya pelan karena bakal kena denda. Memang aku lari kencang karena sudah cukup capek di jalan, pengen segera sampai. Zona 110 aku lari 180. Polisi ngak nanyain SIM, cuman kasih nasehat saja. Aku bilang ke Najib, baik banget polisi di sini. Najib bilang, akhlak polisi Turki baik-baik, mereka nggak mau kita rugi karena ngebut, dan mereka juga nggak bisa disuap. Sampai Konya siang, langsung disambut 4 bocil anak-anaknya Najib (Abdullah, Muhammad, Abdurrahman, dan Ali). Rumah Najib sebelahan sama mesjid. Mesjid ini dibuat tetangganya yang juga pemilik rumah yang Najib sewa. Karena sudah sepuh, pemilik mesjid ini ngak pernah datang ke mesjid meski jaraknya nggak jauh. Najib hanya bayar 50% harga sewa rumah, dengan catatan dia menjadi imam di mesjid itu. Mesjidnya kecil, menampung sekitar 50an orang, dengan ruang jamaah wanita dan perpustakaan kecil. Kecil tapi asri dengan karpet hijau. Di luar ada bangunan kecil, buat wudhu dengan 2 pancuran air kran dan sebuah toilet. Pertama ke toilet sempat bingung. Toilet jongkok, dengan air kran di depan. Masalahnya di belakang ada semacam kran juga yang kalau kıta putar, bakal keluar banyak air deras (flush). Jadi sempat ragu, aku mesti menghadap ke mana :) Kalau menghadap depan, ngapain ada kran flush di belakang segala ? Kalau menghadap belakang, berarti ini seperti toilet gaya Jepun di mana lubangnya memang ada di depan kıta :) Masih bingung milih posisi tapi sudah nggak tahan, akhirnya aku pakai gaya Jepun, menghadap ke belakang. Dan ternyata itu salah, disaster :) Pokoknya diinget2 saja, kalau temen-temen ke Turki ketemu toilet jongkok, cara pakainya kayak di Indonesia punya :) Nginep dua malam di Konya, dimasakin gule kambing, dan biryani, dan makanan tradisional lainnya kayak manti, mejanya penuh. Istrinya pinter masak, enak sekali masakannya.


Esoknya jalan ke Aksehir, sekitar sejam nyetir buat berziarah ke makam Naserudin hoca, tokoh kocak jaman Turki Seljuk (sebelum Ottoman ) yang populer di sepanjang jalan sutra. Pantas saja pernah liat patung dia menghadap belakang pas naik keledai di Bukhara, salah satu kota utama yang dilalui jalur sutra. Kebetulan waktu itu tanggal 5 Juli, awal diadakannya festival tahunan sampai tanggal 10.


Makam Naserudin hoca di Aksehir

Banyak pengunjung dan ada pula jurnalis yang mengadakan liputan di dalam makam Naserudin yang dipagar. Di sebuah taman deket pemakaman itu dibuat banyak sekali patung darı logam yang menggambarkan cerita-cerita kocak Naserudin. Sama seperti di sekitar stasiun Odense, Denmark yang dibuat banyak patung yang menceritakan tulisan-tulisan HC. Andersen yang memang kelahiran Odense. Lalu ada temen yang ngajakin i'tikaf di mesjid Camlica di Istanbul. Namanya Adnan, temen di Stavanger yang kebetulan lagi liburan juga di Konya, yang bapaknya pernah jadi boss mesjid Mevlana Stavanger. Camlica ini mesjid terbesar di Turkiye, perpaduan gaya arsitek Ottoman dan Seljuk dengan kapasitas 63k jamaah, salah satu proyek kebanggaan Erdogan.

Mesjid Camlica

Interior Camlica

Berangkat kamis pagi, pakai 2 mobil. Karena temen ini mau i'tikaf selama dua minggu, sementara aku paling lama hanya bisa 2 hari. Mobil menuju Ankara, sejam sebelum Ankara belok kiri, masuk ke wilayah perbukitan yang adem. Di sana banyak villa2 dan bukitnya sesekali mirip di Cappadocia dengan jamur-jamur magmanya. Lewat beberapa komplek villa, masih lanjut dan ketemu suatu tempat dengan nama Turanlar. Sempat kepikiran, ini tempat jangan-jangan punya temen ini yang nama keluarganya Turan. Akhirnya sampai di sebuah tempat dengan pintu gerbang dengan 2 villa besar di dalamnya dan sebuah bangunan di pojoknya, beberapa ayam berkeliaran di halaman. Adnan keluar mobil dan membuka pintu gerbangnya. İbu dan tantenya menyambut, lalu menawarkan makan siang. Sebetulnya aku sudah kenyang, tapi karena menunya kambing bakar yang katanya sisa daging korban, akhirnya aku iyain saja :) Ada senampan sayuran yang dipetik dari halaman sekitar, yang salah satunya kayak makanan jangkrik di kampung, kita biasa sebut krokot. Lalu aku tanya apa ini bisa dimakan? Dia bilang bisa, lalu dia makan sayur itu duluan, ngasih contoh kalau sayuran itu aman. Lalu ngobrol-ngobrol, aku tanya kenapa nama tempat ini sama dengan nama keluargamu ? Dia bilang bahwa daerah itu memang milik kakek bapaknya dia, jadi dulu mereka tuan tanah di situ. Banyak villa di sekitarnya, pemiliknya biasanya orang-orang Turki yang tinggal di Eropa dan dipakai ketika mereka liburan summer. Karena selama summer biasanya suhunya tinggi, kemarin sempat mencapai 43°. Sementara hawa di villa-villa di pegunungan ini cukup adem. Naruhodo ne. Lalu lanjut perjalanan menuju Istanbul, mampir dulu di kota kecil Bolu buat jemput satu temen lagi. Temen ini, temenku diskusi main saham, orangnya detail dan teliti, analisanya bagus. Sempat istirahat sebentar di highway outlet, mall yang buka 24 jam, lokasinya deket toll, dan rame terus meski tengah malam. Sholat jamaah isha 2 rakaat dengan musafir lainnya di sebuah mesjid yang cukup besar di lantai 2 mall, lalu nongkrong di Starbuck sampai subuh, baru melanjutkan perjalanan menuju İstanbul. Biasanya sebelum sholat jamaah, kıta kasih tahu orang-orang di tempat itu bahwa sholatnya 2 rakaat dan bukan 4. Jadinya hanya yang lagi dalam perjalanan saja yang gabung, yang orang lokal biasanya sholat sendiri 4 rakaat. Perjalanan siangnya kıta sempat mampir di Berceste, resto dan pusat belanja pinggir jalan rekomendasi temen karena bisa all you can eat seharga sekitar 100 nok. Sampai Istanbul sore, malam Jumat. Nginep malam pertama di Camlica. Karena capek banget, aku ketiduran di mobil di parkiran. Karena kaca jendela mobil sempat kebuka sedikit, paginya kulitku merah-merah semua, rupanya malamnya jadi santapan berjamaah para nyamuk. Deket mesjid ini ada cafe dengan teras terbuka, yang dari sini kita bisa melihat kota Istanbul dari atas, cakep. Harganya murah dan menunya lengkap, cocok buat nyambi ngerjain sesuatu atau ngobrol-ngobrol saja. Jumat pagi aku sama temen meluncur ke downtown Istanbul, sementara Adnan pengen stay di Camlica saja. Sampai Istanbul sekitar jam 11 siang lalu ngopi di sebuah resto milik kommune yang harganya miring karena disubsidi. Bebas parkir bagi pengunjung dan viewnya bagus ke arah selat Bosporus. Temen ini lahir di pusatnya Istanbul, jadi tahu banget Istanbul. Menjelang waktu jumatan, kıta jalan kaki saja sekitar 7 menitan menuju Aya Sofia. Mesjid penuh, kebanyakan jamaah malah foto-foto atau bikin video daripada ndengerin khotbah dalam Turkish. Habis jumatan, lanjut explore Istanbul, ada keponakan temen yang gabung, mahasiswa yang lagi kuliah di Istanbul Technical University. Sempat ke resto Indonesia, warung Bu Deden tapi cuman punya dua menu, akhirnya nggak jadi, dan lanjut muter-muter sambil beli parfum, kaos kaki, celana, dan baju. Lalu malamnya dinner di sebuah resto yang kata temen cukup elite, karena ngak semua orang bisa masuk :) Namanya Emigan Sutis, lokasinya di pinggir laut, viewnya memang bagus sih, meski makanan dan harganya biasa saja. Yang beda ialah, pas kita sampai resto, nanti ada staf resto dengan pakaian rapi akan memarkir mobil kita di tempat khusus. Selesai makan kita tinggal lapor dan nunggu di depan resto, nggak lama mobil kıta akan dianterin di depan resto, pengunjungnya dianggap boss, itu saja bedanya :) Selesai makan, balik ke Camlica, nginep semalam lagi. Habis isha pada cari tempat buat tidur. Karena lagi liburan sekolah, banyak anak-anak yang juga i'tikaf di mesjid. Kata Adnan kita bisa tidur di mesjid. Aku pilih deket tempat ngecharge HP, lalu tidur. Nggak lama, marbot mesjid datang dan bangunin aku. Sambil nunjuk kamera dia ngomong pakai Turkish yang aku nggak ngerti maksudnya. Ngangguk-ngangguk saja karena ngantuk, sementara aku lihat Adnan dan temen ngintip dari pojokan sambil ngakak. Lalu mereka menjelaskan bahwa aku tidak boleh tidur di tempat yang terpantau kamera. Akhirnya ya pindah ke tempat lain yang agak tersembunyi sampai waktu subuh. Setelah nginep dua malam, kami cabut ke arah Bolu. Ngedrop temen lalu lanjut perjalanan ke arah Timur sendirian, sementara Adnan balik ke Konya. Aku lanjut ke Amasya, lalu Trabzon di mana di sini ada Aya Sofia juga selain yang di Istanbul dan di Iznik, lalu lanjut ke Georgia. Sampai perbatasan Turki-Georgia harus bayar denda speeding selama di Türki sebesar 3160 lira, atau sekitar 1230 nok.

Kota Amasya

Aya Sofia Trabzon

Mengunjungi Batum atau Batumi, kota terbesar kedua Georgia setelah ibukotanya Tbilisi. Batumi ini kota pelabuhan di laut hitam, banyak gedung-gedung tinggi di sekitar pantai, dan sering disebut mirip Dubai. Mereka tidak mau disebut sebagai Georgian, tapi merupakan wilayah semi independent republik bernama Adjara. Dan yang mengejutkan, 40% penduduknya adalah muslim. Pantas saja pas di sana, banyak sekali turis Timur Tengah melancong. Dan menurutku Batumi lebih enak dinikmati dibanding Tbilisi. Tadinya mau nginep di Batumi, tapi karena masih agak sore dan jarak ke Tbilisi cuman 3 jam nyetir, akhirnya aku putuskan lanjut. Dan disaster itu terjadi. GPS kasih jalan yang salah, jalan sempit berliku-liku di perbukitan yang hanya bisa 50km/ jam. Sampai malam masih di jalan, hujan deras pula. Jalanan gelap, sempit, sepi, hujan lebat, meliuk-liuk banyak tikungan, kadang ketemu lampu salib di pinggir jalan berukuran tinggi sekitar 3 meter, juga ketemu beberapa anjing, gede-gede yang kalau melihat mobil, langsung lari menuju mobil haha horror banget :p Menurutku Georgia ini negara yang paling jelek jalannya, padahal ini jalan yang menghubungkan kota terbesar kedua dan pertamanya. Pas baliknya di siang hari baru tahu kalau mereka sedang struggling membangun jalan tol menembus bukit-bukit di antara kedua kota itu. Dari Tbilisi menuju perbatasan Azerbaijan yang hanya sekitar 60km nyetir. Pede banget bisa masuk Azerbaijan, pikirku karena sesama negara muslim. Di perbatasan sepi banget, ngak ada mobil lain. Seorang polisi berdiri tegak di tengah jalan dan bilang pakai bahasa yang nggak aku ngerti, intinya aku nggak bisa masuk. Aku bilang, aku dari Indonesia dan bisa masuk Azerbaijan! Dia ngomong lagi, aku balas lagi haha Mungkin dia kesel, trus nulis sesuatu dan nunjukin HPnya, disitu tertulis terjemahan, yang isinya kira-kira: Siapapun kamu, kamu tidak bisa masuk Azerbaijan dari sini pakai mobil! Kalau mau ke sana hanya bisa lewat udara. Kalau tidak terima, silahkan datang ke kedutaan Azerbaijan di Tbilisi dan minta surat ijin jalan! Akhirnya nyerah balik Tbilisi, di tengah jalan ketemu mesjid. Lalu mampir dan ngobrol-ngobrol sama marbotnya. Dia orang Azerbaijan dan cerita kalau memang kita nggak bisa masuk Azerbaijan lewat darat, kecuali mobil-mobil kontainer saja. Alasannya karena Azerbaijan lagi ada konflik dengan Armenia. Jadi kalaupun aku bisa masuk Azerbaijan, nggak bakalan bisa masuk Armenia, karena keduanya menutup semua bordernya. Bahkan kalau konflik sedang berlangsung suara tembakannya bisa sampai mesjid itu, karena lokasi bordernya memang ngak terlalu jauh. Bapak ini cerita kalau di daerahnya itu kebanyakan muslim Azerbaijan yang tinggal dan kebanyakan sebagai petani. Aku sempat dibuatin teh dan diajak sarapan roti pakai yoghurt. Lalu dia nyaranin supaya aku langsung ke Armenia saja, yang bordernya nggak jauh dari situ, sekitar sejam nyetir. Yo wis aku ikutin sarannya. Di perbatasan ternyata aku ngak bisa masuk Armenia, butuh visa katanya. Karena tahu aku dari Indonesia, orang-orang Armenia ini cukup welcome dan bantu buatin visa. Mereka tahu kalau kebanyakan orang Indonesia pro Putin, sementara Armenia sangat dekat dengan Russia. Bayar sekitar 200nok, jadilah visa Armenia yang ditempel di pasporku. Lalu lanjut menuju Yerevan, ibukotanya. Armenia ini cakep negaranya, banyak pegunungan hijau, tidak seperti di Turki yang perbukitannya gersang. Dari sini juga bisa melihat gunung Ararat yang tadinya masuk wilayah Armenia, tapi akhirnya jatuh ke Turki. Wilayah Turki bagian timur dulunya memang masuk wilayah Armenia termasuk kota Kars dan Erzurum, asal leluhurnya keluarga Kardhasian :) Armenia ini, salah satu negara tertua, negara kristen (orthodox) pertama di dunia, punya salah satu cable car terpanjang dunia di Tatev sepanjang 5.7k km, juga punya alphabet sendiri. Nggak ada mesjid di Yerevan, ada yang jual kebab sih, cuman sepertinya non halal karena jualan burger juga. Akhirnya beli roti saja dan jus buah segar. Esoknya balık lagi ke Georgia lalu lanjut ke Turki. Selama di jalan biasanya suka racing kalau ada yang ngajakin. So far selalu bisa mengatasi mobil yang ngajakin balapan. Meski aslinya matic, supaya kenceng, biasanya aku pakai manual mode (steptronic transmission) dengan 8 gear. Gas poll sampai RPMnya mendekati angka 5, baru pindah gigi :) Nah di Georgia sempat ketemu lawan tangguh, camri yang sepertinya sudah dimodif, dan juga ngak pakai plat biasa, tapi pakai nama ORBI 2. Aku pikir mudah nih mengatasinya haha, Jadi kita ngadu di jalan toll, mobil sejajar, aku di kiri dia di kanan, lalu gas dan hasilnya si camri perlahan meninggalkanku :). Iseng aku cek ORBI 2 ini dan yang keluar adalah ORBI twins, salah resort besar di Batumi, mungkin dia pemiliknya. Sampai Turki, lanjut jelajah kota-kota di wilayah tımur seperti Artvin, Erzurum, Diyarbakir, Mardin, Gaziantep, Adana, Mersin, Alanya, lalu Konya. Makan biasanya daging bakar di resto kebab khas daerah itu. Tiap daerah punya kebab kebanggan masing-masing. Misalnya Erzurum terkenal dengan cag kebabnya, yang ngegrillnya horizontal lalu diiris tipis-tipis, menurutku lebih enak dibanding doner kebab yang digrill vertikal. Sekitar Cappadocia punya testi kebab, kebab dalam kendi dan harus dipecah sebelum dimakan. Adana dengan adana kebab, Konya dengan firin kebabnya (kesukaan kak Agus:)), Bursa dengan iskandar kebab, dan lainnya. Di Diyarbakir sempat mampir ke mesjid Salahuddin Al Ayubi. Masih baru, gaya arsiteknya lain, ngak kayak mesjid Turki lainnya yang biasanya bergaya Ottoman. Diyarbakir memang dikenal sebagai ibukotanya orang-orang Kurdish di Turki, dan seperti kita tahu Salahuddin Al Ayubi, pembebas Palestine itu adalah orang Kurdi.

Mesjid Salahuddin Al Ayubi

Meski banyak orang Kurdi yang pro Erdogan, tapi secara umum masih ada jarak antara Turkish dan Kurdish, juga antara kelompok religius pro Erdogan dengan kelompok sekuler yang kebanyakan mengidolakan Ataturk. Kebayang kan kondisi Turki dengan 3 kelompok besarnya yang tidak sama ideologinya. Karena suhu udara mencapai 43°, aku sempat berenang di laut di Alanya. Alanya ini daerah wisata pantai selatan Turki, deket Antalya. Sejak perang Russia-Ukraina, harga properti di sini melonjak dratis, karena banyak warga Russia yang kabur ke sana dan beli properti. Alasan utamanya karena kalau mereka masih di Russia, maka mereka akan direkrut untuk ikutan berperang. Di Alanya sempat punya pengalaman kurang menarik. Habis makan siang, aku cari mesjid buat dhuhur. Sudah agak telat, jadi mesjid sudah sepi. Di luar ada pria duduk di bangku. Selesai wudhu, ngobrol2, dia bilang ngak punya uang, kelaparan. Lalu aku kasih 100 lira, lalu aku sholat. Selesai sholat, dia sudah beli makanan. Lalu lanjut ngobrol, dia bilang dari Konya, lalu aku bilang aku mau ke Konya, kalau mau bareng, ayo. Dia minat, tapi sebelum jalan dia minta uang lagi 200 lira buat ke frisør. Setahuku di Turki ke frisor cuman 80 lira. Akhirnya aku beliin silet cukur sekali pakai di butik lalu aku bilang ke dia supaya nunggu di mesjid sekitar sejam, karena aku mau ke toilet pantai dan ambil mobil yang aku parkir deket pantai. Selesai darı toilet aku ke bangku deket taman, merokok sebentar, dan ternyata dia ada di bangku sebelah sekitar 10 meter dari bangkuku, pas aku lihat dia pura-pura nggak lihat :) Makin males bareng dia ke Konya, karena ternyata ngak bisa dipercaya, bukannya nunggu di mesjid malah ngikutin aku darı tadi. Celakanya bangku tempat dia duduk deket dengan tempat aku parkir. Lalu aku kontak temen Turki, dia nyaranin supaya aku naik taksi menuju kantor polisi dan lapor haha Akhirnya aku nyebrang jalan, lalu masuk toko pakaian dan aku pantau dari dalam, dan ternyata orangnya sudah nggak ada haha, makin parno jadinya. Ya sudah nekat, liat-liat nggak ada dia, akhirnya aku menuju ke arah mobil, lalu nyebrang dan masuk mobil, trus langsung kabur. Temen bilang, memang ada orang-orang kayak begitu di Turki, mereka sebetulnya punya uang, tapi kalau ada turis yang mudah diminta-mintai, makin jadilah mereka mintanya. Sebetulnya kalau dia mau nunggu di mesjid sesuai kesepakan, dia bakal aku angkut ke Konya, sayangnya dia langgar. Selama nyetir kemarin ada 2 orang sempet nebeng. Seorang cowok dari Moldova nebeng di Georgia sampai Tbilisi. Dia pernah ngajar bocil TK di china dan minat banget mengunjungi Indonesia. Lalu seorang bapak-bapak Turki di daerah pegunungan sepi, nebeng cuman beberapa kilometer saja. Selama di Norway, kalau lagi ada yang pengen nebeng, dan aku lagi ngak ada acara biasanya aku angkut. Pernah dulu banget, ada cewek Belgia yang lagi solo keliling dunia berdiri di E39 deket madlaveien, lalu aku anterin sampai Sandnes (rute 13), lalu lanjut nebeng mobil lain, tujuannya ke Preikestolen. Pernah ibu-ibu Norway sekitar jam 10 malam, butuh tumpangan pas aku lewat sentrum karena mau ke Bergen tapi ketinggalan bus. Lalu aku anter ke Mortavika. Waktu ngajarin nyetir anak Afrika, ada Ibu-ibu Poland bawa koper butuh tumpangan, kita anterin darı sekitar UiS ke Kvadrat. Sampai Konya nginep dua semalam, lalu balik ke Norway lewat Yunani dan bukan Bulgaria. Mendekati Yunani menjelang maghrib cari mesjid. Ketemu sebuah mesjid dekat komplek apartemen, pas sampai mesjidnya kelihatan sepi. Dipagar dan pintunya tertutup. Lalu kıta buka, Najib muterin mesjid lalu wudhu. Setelah dia selesai, gantian aku wudhu. Tempat wudhunya gelap, lampunya remang-remang, hawanya serem, dan pintunya itu kalau nutup bunyinya juga serem. Di tempat-tempat wudhu ada cermin, saking parnonya merasakan hawa nggak enak di ruang wudhu sampai nggak berani lihat cermin :), buru-buru keluar. Saatnya maghrib, keluar suara adzan (rekaman) darı dalam mesjid. Lalu kita buka pintu mesjid, memasuki tempat naruh-naruh sepatu dan pas kıta buka pintu dalam mesjid ternyata dikunci, akhirnya sholat di depan pintu dalam mesjid. Di sekeliling mesjid banyak ilalang, dan ada satu pohon dengan ayunan bayi, lalu ada tasbih, entah jatuh atau dibuang di rerumputan depan mesjid, plus 2 ekor anjing besar muter-muter di halaman mesjid. Ini mesjid paling horror yang pernah aku temui. Najib sempet bilang, betapa senangnya mesjid ini ada orang yang mengunjungi dan sholat di sana. Aku cerita ke temen. Dia bilang itu daerah Kesan, pamannya dulu pernah tinggal di sana. Basisnya orang-orang Ataturk yang sekuler, jadi mesjid itu memang nggak mereka pakai lagi. Padahal jarak mesjid sebelahan dengan komplek apartemen mereka. Dan abandoned mesjid kayak begini tidak sedikit jumlahnya.

Abandoned mosque

Memang kadang kesalahan atau ketidakbaikan yang dilakukan secara kolektif, rasanya biasa-biasa saja dan tidak ada perasaan bersalah, karena yang lain juga melakukan hal yang sama. Dan untuk merubahnya sangat tidak mudah, perlu tenaga dan waktu, terutama untuk merubah mindset banyak orang, dan seringkali ada perlawanan. Begitu pula kebanyakan kisah-kisah para nabi dalam merubah mindset umatnya, berat dan kadang berdarah-darah. Sama dengan upaya untuk merubah mindset rakyat suatu negara, padahal itulah kunci utama kemajuan suatu bangsa :) Dari Yunani tadinya mau maşuk Makedonia, tapi ditolak dengan alasan kartu PRku hanya berlaku 2 tahun, mereka minta 10 tahun :) Males debat dengan orang beginian, akhirnya masuk Yunani lagi, lalu lewat Albania, Montenegro, Bosnia, Kroasia, Slovenia, mampir sebentar di Trieste, Italia yang cuman sejam nyetir darı Ljubljana. Lalu lanjut ke Austria, Swiss, dan mampir sebentar di Vadus, ibukota Liechtenstein, negara mini di tengah-tengah Alpen dengan penduduk hanya 40k jiwa. Lalu lanjut ke Jerman, mampir sebentar di kantor pusat Milli Gorus di kota Koln. Diajak tur ke perpustakaan dan percetakannya dengan ribuan buku dalam Turkish dan Germany, lalu dikasih bekal makanan dan minuman buat di perjalanan, katanya :) Milli Gorus ini lembaga dakwah yang didirikan Erbakan, mantan PM Turki yang juga mentornya Erdogan. Sealumni dengan Habibie di Aachen, setelah lengser dikudeta dia mendirikan Milli Gorus yang misinya sejalan dengan Diyanet milik pemerintah Turki. Milli gorus punya 500 mesjid di Eropa dan 650 di dunia, punya percetakan dan penerbitan sendiri. Mereka berkembang karena banyaknya orang-orang Turki di perantauan yang butuh mesjid di daerah mereka tinggal. Sampai jam 11 siang di Koln lalu lanjut menuju Hirtshals yang masih 900km, sementara jadwal fery jam 11 malam. Hari minggu dan hujan lebat, macet di beberapa titik, alhamdulillah masih keburu ngejar fery di last minute. Ini kurang bagus sebetulnya, karena dalam perjalanan jauh, kita ngak pernah tahu situasi di perjalanan. Mobil rusak, macet, dan situasi yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Kebanyakan orang Turki nggak beli tiket balik, mereka baru beli ketika mereka sampai Jerman, sehingga kemungkinan besar ngak buru2 atau ketinggalan fery. Selesai, semoga bermanfaat bagi temen-temen yang mau roadtrip ke arah Timur :) ***

 
 
 

Comments


© 2023 by Loui Design

bottom of page