Pengalaman Umroh Dari Norway
- Ayu Damayanti
- Feb 27, 2023
- 7 min read
Oleh Aris Tayu (Stavanger, 20.02.2023)
Sebetulnya kejadiannya sudah lama, sekitar 10 tahun lalu, karena ada request, baiklah aku share pengalaman umrohnya, semoga manfaat:)
Aku ceritain dulu latar belakang aku umroh:)
Waktu itu masih ngantor di Tasta, bareng Reza, dapat berita kalau ibuk wafat. Kaget banget. Karena kabar terakhir ibuk barusan selesai umroh. Jadi ibuk umroh bareng kakak keduaku dan suaminya. Selesai, lalu pulang ke Tayu. Ternyata ibuk kecapekan karena memang sudah sepuh. Lalu dibawa ke RSK Tayu yang sekarang angker itu:)
Nginep semalam. Malamnya ibuk mimpi melihat surga. Paginya sudah seger, lalu disuapin sup oleh kakak ketiga. Ibuk bilang, enak banget nduk supnya. Habis sarapan itu ibuk wafat. Berarti sup itu rejeki makanan ibuk yang terakhir.
Akü langsung cari tiket. Dapat, tapi tetep ngak akan bisa nganter ibuk ke peristirahatan terakhirnya, sama seperti waktu bapak dan kakak pertamaku wafat, selalu terlambat. Resiko anak durhaka di perantauan :) Kalau aku inget lagi, memang waktu kumpul dengan ortu cukup singkat, cuman sampai smp, karena waktu sma aku sudah ngekos, padahal jarak ke sekolah cuman 27km, sejam dengan bus atau motor. Habis itu ke Bandung, Tokyo, Copenhagen, dan terdampar di Stavanger.
Sebetulnya ada rasa seneng juga ibuk meninggal habis umroh, mimpi liat surga, husnul khotimah insyaAllah. Tapi sebagai anak kesayangannya juga tetep sedih. Nangis sendirian sambil duduk di bandara Schiphol, nunggu penerbangan ke Jakarta.
Waktu kecil ibuk sering aku bikin senewen atau marah banget, karena aku extremely nakal. Mungkin karena waktu ibuk hamil aku, bapak yang pengen banget punya anak cowok pernah ngomong: anak ini nakal ngak apa2, asal cowok :)
Sampai rumah langsung ziarah, lalu ikutan tahlilan beberapa hari, lalu balık lagi ke Norway.
Sampai Norway, ada dorongan kuat banget buat umroh. Langsung cari info umroh. Dapat, pas liburan easter oleh sebuah lembaga muslim Pakistan di Oslo, namanya ICC Oslo. Biaya 12k nok, selama 9 hari.
Berangkat darı Stavanger ke Oslo, lalu di Oslo ketemu jamaah lain yang kebanyakan orang2 Pakistan. ada satu keluarga darı Bangladesh tinggal di Oslo.
Pesawat menuju Istanbul. lalu berhenti agak lama, dan kıta semua diwajibkan ganti pakaian umroh di bandara. Baru tahu kalau pakaian umroh itu begitu. Kıta ngak boleh pakai apa2 lagi selain selembar kain putih itu. Sempat parno juga mondar mandir di bandara, takut lepas atau melorot:)
Setelah menunggu beberapa jam, lalu naik pesawat Turkish Airways menuju Jeddah. Di suatu tempat mendekati Jeddah, ketua rombongan mengumumkan ke semua penumpang untuk melakukan niat berumroh.
Pesawat mendarat malam sekitar jam 21, antri agak lama di bandara, agak gerah. Lalu naik bus menuju hotel. Sampai di sebuah hotel bintang 5, lokasinya dekat mesjid Haram, sekitar 5 menitan jalan kaki. Liat tv di lobby, ada orang2 yang lagi thawaf, aku sempat mikir itu rekaman cara thawaf. Ternyata itu siaran langsung dan kita disuruh segera thawaf setelah memasukkan barang2 ke kamar. Kamarnya besar, dengan 4 bed. Aku dan 3 temen Pakistan. Salah satunya ternyata dari Stavanger, namanya Muhammad Saeed, anak DNV, akhirnya jadi karıb sampai sekarang.
Malam itu juga kıta semua thawaf, yang ternyata mudah, lalu lanjut sai. Kalau haus, tinggal minum air zam zam yang ada di mana2, tinggal teguk sepuasnya.
Lalu pulang, ngobrol2 dengan roommates. Lalu tidur. Pas bangun, dua temen darı Oslo langsung complain. mereka bilang pada susah tidur semalam, karena aku dan Saeed ngorok:)
Habis itu pada mandi gantian, lalu sarapan. Makanan khas Arab dan Timur Tengah. Makanannya melimpah. Lalu thawaf lagi, habis itu potong rambut, di sela2 bangunan tidak jauh darı mesjid. Orangnya bisa bahasa, mungkin karena banyak jamaah dari Indonesia yang cukur sama dia. Dia tanya: habis?, yang maksudnya cukur habis atau plontos. Aku jawab habis:)
Habis itu kedua temen dari Oslo cari apotek. mereka beli dua strip obat anti ngorok:) Malam menjelang tidur, aku dan Saeed wajib minum pil anti ngorok itu. Paginya temen2 Oslo memuji kami, thoyib thoyib bror, kalıan ngorok pula tapi ngak senyaring sebelumnya :)
Selama di Mekah acaranya mirip2 saja tiap harinya. Sholat jamaah 5 waktu, kadang telat dan sholat di jalan atau trotoar supaya tetep berjamaah. Siangnya thawaf, malamnya ke mesjid baca2 quran, lalu balık ke hotel. Sarapan di hotel, siang atau malam cari makan di resto atau mall2.


Karena pengen maksimal berbuat baik, biasanya setiap ke mesjid buat sholat jamaah aku bawa sajadah baru dan bawa tasbeh. Lalu selesai sholat sajadahnya aku kasıh ke orang sebelahku yang ngak aku kenal sebagai hadiah. Begitu pun dengan tasbeh, aku bagi2 saja bagı yang mau.
Waktu sholat selanjutnya, bawa sajadah baru lagi, lalu kasıh orang lagi, begitu seterusnya.
Beli sajadahnya di toko yang terletak di antara hotel dan mesjid. Tokonya kecil, sekitar 4x7 meter saja, dan hanya jual sajadah. Siang, biasanya sajadah masih menggunung, malamnya sudah hampir habis, begitu setiap harinya.
Kalau situasi normal (kayak sebelum covid), mudah sekali buat cari cuan di Saudi ini. Ketemu orang Yemen di madinah, modalnya meja kecil buat naruh quran buat dijual. Laris setiap harinya. Quran laris terjual, karena banyak jamaah yang beli buat ditaruh di mesjid Nabawi.
Waktu pulang darı mesjid sempat ketemu kerumunan orang Afrika di pinggir jalan dengan pakaian serba hitam. Lalu mereka dibatasi kayak police line itu, dan dua orang dengan pakaian rapi kayak orang utusan kerajaan bagi2 uang ke mereka. Lalu ada beberapa ibu2 Indonesia lewat, dan langsung masuk berbaur dengan orang2 Afrika itu supaya kebagian fulus juga haha. Memang ngak ada habisnya akal orang kıta.
Sempat ke gua hira sama Saeed. Naik taksi sampai lembah jabal Al Nur, lalu jalan kaki mendaki, sekitar 40 menitan. Tidak terlalu berat medannya dibanding Kjerag atau Preikestolen, tapi sayangnya banyak sampah di jalan. Orang2 buang sampah plastik dan botol seenaknya. Mendekati puncak, beberapa orang yang pas aku tanya bilang dari Afganistan. Mereka berdiri di pinggir jalan dengan sekarung sampah yang mereka kumpulkan, dan minta sumbangan uang.
Sampai gua hira menjelang maghrib. Ada semacam gubug liar dengan atap2 seng, kayak rumah gelandangan yang asal buat. Kotor dan sebetulnya sayang banget, karena itu salah satu tempat paling bersejarah dalam İslam, karena di situlah Nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama lewat malaikat Jibril. Kabarnya tempat ini dan tempat bersejarah lainnya sengaja ngak dirawat oleh (wahabi) biar ngak dikultuskan :)
Akhirnya ngantri buat sholat sunnah di dalam gua, sholat satu persatu, gantian. Aku ngikut saja. Lalu sholat maghrib berjamaah di deket situ. Kota Mekah dan mesjid Haram kelihatan bagus dengan banyak cahayanya. Habis sholat makan indomie dan ngopi di sebuah kedai satu2nya di atas bukit itu.

Setelah beberapa hari di Mekah, jamaah menuju Madinah dengan menggunakan sebuah bus. Perjalanan sekitar 4 jam, dengan pemandangan hampir sama, gurun di kiri kanan jalan.
Bus sempat berhenti saat dhuhur sekalian makan siang. Jadi ada sebuah resto dengan mesjid dan tempat parkir yang luas. Mirip resto2 di sepanjang pantura buat berhentinya bus2 malam jurusan Jakarta. Setelah sholat, pesen makan. Nunjuk di gambar saja menunya, nasi briyani pakai ayam. Akhirnya hidangan datang, senampan nasi dengan ayam utuh, yang kalau dimakan bertiga pun bakal kenyang semua :)
Sampai Madinah sore, hawanya adem. Entah kenapa aku merasa lebih suka Madinah dibanding Mekah. Langsung menuju hotel, trus ke mesjid Nabawi, sholat ashar (telat) berjamaah di luar mesjid. Habis sholat maghrib, antri menuju raudah. Bisa sholat beberapa kali di raudah, alhamdulillah.

Esoknya datang sendiri ke mesjid buat dhuhur. Habis dhuhur jalan2 ke mall dekat mesjid. Lagi duduk sendirian, sambil makan jagung rebus pakai keju dalam gelas kertas itu, tiba2 ada ibu2 sepuh lewat di depanku, sambil kebingungan. Lalu aku tanya kenapa ? Ternyata dia lepas darı rombongan dan ngak tau mau ke mana.
Jadi tadinya ibu itu dan beberapa temennya jalan2 di mall, lalu mereka liat2 toko perhiasan, ibu ini kehilangan rombongannya.
Akhirnya aku bantu nyari hotelnya. Di luar, kami ketemu bapak2 darı Medan yang juga ngak tau jalan ke hotelnya. Tapi karena bapak itu punya kalung id dengan nama kelompok dan nomer telpon leadernya, akhirnya aku telponin dan dijemput, beres.
Sementara ibu ini sudah lupa nama hotelnya, apalagi nomer telpon rombongan, cuman paspor. Tiap kali ketemu beberapa orang jalan, langsung dia tanya pakai bahasa sunda, meski itu rombongan ibu2 Turki. Ibu ini asalnya darı Tasikmalaya.
Tiap kali jalan dan liat hotel, langsung bilang itu hotelnya. Pernah pas liat sebuah hotel, dia bilang kalau itu hotelnya. Lalu aku tanya lantai berapa? Dia bilang 10. Lalu pakai lift ke lantai 10 dan karena dia lupa nomer kamarnya, akhirnya semua kamar di lantai itu aku pencet bellnya haha, dan banyak juga yang buka pintu, tapi ternyata dia tidak tinggal di sana. Sempat pula dibantu orang lokal pakai mobil menuju sebuah hotel, ternyata bukan. Juga ada orang Kalimantan sempat bantu sampai ashar lalu pisah.
Cukup melelahkan. Sampai maghrib akhirnya sempat ke sebuah hotel, dan ketemu rombongan Aa Gym. Lalu aku minta ketua rombongan supaya kontak ketua rombongan ibu itu. Nyambung, dan dikasih tau nama hotel dan alamatnya. Lalu aku anterin ke sana, alhamdulillah bener. Darı habis dhuhur sampai habis isya muter2 ke banyak hotel. Cukup capek, tapi akhirnya lega banget.
Acara lain ke pasar kurma, di mana kıta bisa beli berbagai macam kurma. Lalu ke jabal Uhud, tempat berlangsungnya perang uhud. Bukitnya ngak besar dan ngak tinggi lagi, konon banyak jamaah yang ambil tanah di bukit itu untuk jimat:)

Kunjungan ke mesjid Al Qiblatayn atau mesjid dua qiblat, di mana rasulullah Muhammad menerima wahyu untuk merubah arah qiblat darı Yerusalem ke arah Masjidil Haram di Mekah.

Lalu ke mesjid Quba (mesjid pertama dalam sejarah İslam, dibangun pada 622), juga ke lokasi perang khandaq dengan The Seven Mosques, di situ ada 5 mesjid, berdasarkan nama orang yang ditempatkan di sana ketika terjadi perang khandaq, yaitu mesjid Salman Al Farisi, mesjid Abu Bakar as Siddiq, mesjid Umar bin Khattab, mesjid Ali bin Abi Thalib, mesjid Fatımah Az Zahra, dan mesjid Al Fath.

Di sinilah diturunkan surat ke 48, yaitu surat Al Fath yang artinya kemenangan. Dan surat ini yang paling sering dibaca di mesjid2 di Turki jaman Muhammad al Fatih, menjelang penaklukan Constantinople, dan masih menjadi surat favorit masyarakat Turki hingga kini:)
Makanan lumayan enak2, banyak resto dengan menu Indonesia. Cuman kadangkala mesti antri lama buat dapat mejanya.
Secara umum umrohnya menyenangkan, dapat banyak pengalaman dan temen baru. Hari terakhir, terbang darı Madinah menuju İstanbul lalu Oslo, lalu Stavanger.
Seperti baterai yang baru dicharged, habis umroh lumayan makin rajin belajar Islam, yang tadinya males2an, alhamdulillah:)
Bagı temen2 yang pengen umroh, bisa ikutan saat easter atau liburan natal dan tahun baru. Biasanya mesjid2 kayak Eyup Sultan, Al Nur suka ngadain.
Atau bisa juga umroh sendiri. Jadi beli tiket pesawat dan booking hotel sendiri. Bagi kıta yang tinggal di Eropa dan pegang visa Schengen, bisa apply turis visa ke Saudi, berlaku selama 90 hari, multientry, dengan biaya 1503.98 nok. Aplikasi lewat www.visitsaudi.com lalu pilih apply for eVisa, bagian menu (kiri atas), eVisa jadi dalam hitungan menit:)
Wallahu a'lam.
Untuk foto lengkapnya bisa dilihat di sini.




Comments